Makam Eropa Peneleh di Surabaya, sebuah kompleks pemakaman bersejarah yang diresmikan pada 1 Desember 1847, sedang diusulkan sebagai Memori Kolektif Bangsa. Dengan luas sekitar 4,5 hektar, makam ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi warga Eropa, terutama pejabat Hindia Belanda, yang berada di Surabaya dan sekitarnya. Keberadaannya menggantikan lahan pemakaman Eropa sebelumnya di Krembangan yang penuh pada akhir abad ke-18.
Makam Eropa Peneleh bukan hanya tempat pemakaman, tetapi juga merupakan saksi sejarah hubungan antara masyarakat Indonesia dan bangsa Eropa pada masa kolonial. Nisan-nisan di kompleks ini menyimpan kisah tentang kehidupan, pekerjaan, dan kontribusi individu yang pernah tinggal di Hindia Belanda. Beberapa tokoh penting yang dimakamkan di sini meliputi:
- Daniel François Pietermaat (1790-1848): Residen Surabaya yang menjabat pada masa transisi penting dalam sejarah kota.
- Herman Neubronner van der Tuuk (1824-1894): Ahli bahasa dan filolog Belanda yang berjasa dalam penelitian bahasa Jawa, Bali, dan Melayu.
- Pieter Merkus (1787-1844): Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-43 yang meninggalkan jejak penting dalam kebijakan pemerintahan kolonial.
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Surabaya, Mia Santi Dewi, menyebutkan bahwa Makam Eropa Peneleh adalah artefak sejarah yang merekam jejak interaksi antarbangsa. Pengusulan sebagai Memori Kolektif Bangsa bertujuan melestarikan warisan ini agar dapat dihargai oleh generasi mendatang. Keberadaan tokoh-tokoh penting seperti Pietermaat, van der Tuuk, dan Merkus memperkuat nilai historis makam ini.
Selain aspek sejarah, makam ini memiliki nilai spiritual. Beberapa makam misionaris agama yang menyebarkan ajarannya di Indonesia masih diziarahi setiap tahun oleh komunitas agama tertentu. Hal ini menegaskan arti pentingnya dalam praktik keagamaan.
Dari sisi sosial, Makam Eropa Peneleh telah menjadi objek kajian ilmiah, baik dalam bidang sejarah, arkeologi, maupun arsitektur. Tempat ini juga menarik sebagai destinasi wisata pendidikan, di mana pengunjung dapat mempelajari sejarah Surabaya dan Indonesia melalui arsitektur dan inskripsi pada nisan. Aktivitas wisata berbasis komunitas turut melibatkan warga setempat dalam pengelolaan dan pelestarian makam, sekaligus memberikan manfaat ekonomi.
Penetapan Makam Eropa Peneleh sebagai Memori Kolektif Bangsa diharapkan dapat meningkatkan pengakuan terhadap nilai pentingnya. Status ini juga akan mendorong pelestarian yang lebih intensif agar warisan ini tetap terjaga dan dapat diakses oleh publik. Menurut Mia Santi Dewi, penetapan ini merupakan langkah penting dalam merawat ingatan kolektif bangsa serta menghargai keberagaman sejarah yang membentuk Indonesia saat ini.
Dengan segala signifikansinya, Makam Eropa Peneleh adalah cermin sejarah yang mencakup hubungan antarbangsa, warisan spiritual, dan sumber pengetahuan yang berharga. Pelestarian kompleks ini menjadi tanggung jawab bersama agar generasi mendatang dapat belajar dan mengambil hikmah dari masa lalu.